Dua Malaikat Pincang

Memiliki ayah yang baik dan bersahaja bagi Nindy adalah suatu anugerah yang sangat besar yang ia rasakan. Ia selalu merasakan motivasi dan semangat baru setiap bangun dari mimpinya. Sosok ayah yang ia kagumi dan segani juga sayangi selalu menjadi sahabat yang mengisi hari-harinya menjadi hari yang selalu berarti sebagai seorang putri tunggal. Nindy lahir sebagai sosok yang sempurna bagi keluarga bahagia itu. Memiliki paras cantik dan anggun serta otak yang cerdas. Sifatnya yang bersahaja membuat semua orang yang melihatnya ingin selalu dekat dengannya.

Nindy adalah gadis yang berbeda dari gadis lainnya. Memiliki rambut berlian dan wajah manis seperti anggur yang selalu membuat dahaga bagi penikmatnya. Ia selalu santun terhadap siapa pun yang menjadi lawan bicaranya. Tanpa terkecuali di rumah atau di sekolah. Itulah yang kerap kali melahirkan cemburu bagi sebagian temannya di sekolah.

***

Detak malam sudah mulai pudar. Bunyi embun yang berjatuhan di daun-daun yang kering berdenting di segala arah. Hari sudah pagi. Bunga yang kuncup bermekaran kembali sesaat matahari menyentuhnya. Kilauan langit melengkapi kepergian malam yang lengang. Siulan burung bergeming bersama desahan angin. Semua mata tak terkatup lagi oleh kabut yang mulai menipis.

Di depan cermin di sebuah kamar Nindy sudah rapih dengan seragam abu-abunya. Bayang yang muncul di dalam cermin seakan cemburu dengan parasnya yang sempurna. Ia melangkah gontai menuruni tangga menuju ruang utama. Ayah yang sangat ia banggakan dan ibu yang lemah lembut sedang bersenda di antara denting jam dinding pagi itu. Dengan senyum renyah ia berpamitan kepada kedua sosok yang sangat ia sayangi.

“Ayah, Bunda. Nindy berangkat ke sekolah, yah,” suara lembut itu memecahkan keheningan yang menjadi balada di altar ruangan itu.

“Ia, sayang hati-hati, yah,” sembari mencium tangan keduanya Nindy melangkah dengan salam dan senyum.

***

Kita pandang daun bermunculan
Kita pandang bunga berguguran
Kita diam: berpandangan.
(Sapardi Djoko Damono).

Petikan sajak ini selalu berdesir di antara dinding jiwa Nindy. Ia seperti aroma salju yang mengubah terik matahari menjadi dingin. Mengubah senja menjadi bianglala. Dan semua itu menjadi cinta ketika sebuah nama berhenti dan hinggap di dadanya. Nama yang telah lebih dari lama berdetak bersama nadinya. Farhan. Adalah jiwa yang senantiasa menjadi cerita dalam setiap ia bermimpi. Menjadi larik dalam puisi yang ia tulis. Ia adalah jiwa yang menjadi tandu bagi Nindy. Aroma gurauan yang biasa dan romantis hingga gombal menjadi bumbu perjalanan asmara dua sedjoli itu.

Nindy yang anggun dan Farhan yang cerdas juga sederhana bagai ombak dan buihnya yang keduanya selalu sepadan. Asmara yang mereka arungi tidak pernah sedetak pun menuai badai. Mereka berdua selalu bersajak dalam dialognya. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”*petikan sajak inilah yang menjadi jembatan dalam menyatukan dua rasa yang sama dalam jiwa keduanya.

***

Pada hari yang sumringah. Matahari menjadi suram tanpa embun yang lelap di dedaunan. Kicauan burung bagai petikan sajak cinta yang baru Nindy tulis di buku hariannya. Ia berdialog dengan udara yang mengintip dari jendela kamarnya. Mengurai rambutnya yang berkilau bagai berlian. Menyapa pagi dengan cinta. Menatap langit yang biru tanpa bianglala.

Sementara di ruang utama tempat ia tinggal suara gaduh seakan melodi yang riuh. Tak ada lagi pagi di ruang itu. Udara dingin yang meresapi pori-pori kulit seketika menjadi bara yang menyulap ruang tersebut bagai jeruji. Suara lantang dan mengerang menjadi pembuka dialog yang ganas. Nindy yang sedang asik bersenda dengan petikan kata dari bibirnya yang elok tertegun dengan kerisauan itu. Ia beranjak dengan gundah. Ada apa gerangan. Gumam hatinya dengan penasaran. Ia menuruni tangga, dan, Deg! Seketika ia lunglai dengan mata yang tajam menatap ruang itu. Dua badan tegap berseragam dan bersenjata sedang menyergap sosok yang selama ini menjadi inspirasi hidupnya. Ayah. Ia diborgol tangannya ke belakang tubuhnya. Dengan bibir gemetar ia bertanya apa yang terjadi. Dua sosok tegap tersebut tidak menjawab tapi memberikan selembar kertas berisi surat penangkapan.

Segera surat tersebut dibaca oleh Nindy. Ia tidak percaya dengan apa yang ia baca dalam surat penangkapan ayahnya. Ayah yang ia banggakan dinyatakan menerima suap dalam pemerintahan dan ditangkap oleh komisi pemberantasan korupsi. Ia baca kembali surat itu dan mencubit pipi eloknya meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Dan benar. Ia tidak sedang bermimpi.

Seketika ia lunglai. Ayahnya dibawa pergi oleh dua petugas tersebut. Ia jatuhkan tubuh dan jiwanya di atas sofa yang berjejer di ruang utama. Ia tidak percaya. Dalam dirinya memastikan bahwa ayahnya tidak demikian. Ia baca kembali surat penangkapan yang masih tergeletak di atas meja di depannya.

Nindy masih menatap ambang pintu yang kosong. Jendela yang ditutupi tirai dan sesekali berdansa oleh angin menjadi luapan matanya yang lebam. Ia menangis. Jiwanya remuk. Ia seperti berada di padang pasir yang sepi tanpa oase dan cinta. Sosok yang sangat ia sayangi telah terjerumus ke dalam retorika dunia yang retak. Ia seperti rangka yang lemah tidak bisa bergerak. Bibirnya yang manis sesekali sedu sedan dengan matanya yang menuliskan elegi dan lara yang mengering.

***

Matahari telah melintang tepat di atas garis khatulistiwa. Teriknya yang ramah sesekali menyulam angin menjadi musik waktu di antara terangnya siang. Bunga-bunga yang mekar kini telah layu sebagian. Segala rupa yang melata telah berjelaga di atas takdirnya sendiri.

Di tengah jalan di dalam sebuah taksi Nindy duduk merenung dan murung. Sesekali ia memandangi langit yang tak lagi menjadi sajak indah buatnya. Deru jalanan yang bising hanya menjadi balada sunyi yang suram. Ia tetap murung dengan wajahnya yang anggun. Berharap ada tandu yang rela menyeka lara yang tengah lelap di jiwanya.

Sengaja ia pergi ke rumah Farhan. Belahan hatinya. Ia ingin membagi kisah elegi yang tengah berkecamuk dalam jiwanya yang anggun. Ia merasa tidak sanggup jika harus menggenggamnya sendiri. Dan ia tahu. Kekasihnya yang setia akan menyeka lara yang tengah bergelora di dadanya. Ia melangkah dengan pelan saat turun dari taksi. Dibukanya pintu halaman yang telah ia hafal. Sembari menahan lembab di pipinya dan suara isak dari bibirnya ia melangkah gontai. Sebentar saja ia sudah berdiri di ambang pintu rumah Farhan yang selalu menjadi dermaga asmara keduanya. Ia menuju ruang yang sudah tahu pasti Farhan di sana. Dan setelah ia tiba di ruang tersebut. Seketika matanya menatap dua sosok yang tengah mesra di ruangan itu. Dengan jelas Nindy melihat ia adalah Farhan kekasihnya. Dan siapa gadis di sebelahnya? Saat itu juga Farhan melihatnya yang tengah berdiri. Dua mata beradu. Mata yang satu tengah lara dan mata yang satunya tengah bereuforia namun bukan dengan matanya. Nindy berhenti tanpa melanjutkan langkahnya. Sebuah asa yang ia dekap jauh dari rumah seketika berguguran bagai bunga yang diterpa badai. Ia berbalik dan berlari. Farhan yang tahu seketika mengejarnya. Namun di luar halaman di tepi jalan Nindy berteriak menyuruhnya berhenti mengejar.

“Nindy, tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya,” teriak Farhan. Namun Nindy tanpa menghiraukan teriakan itu. “Tak usah kau jelaskan semua. Aku sudah melihat dengan mataku sendiri. Ternyata kau tak ubahnya tawon yang menetaskan madu, tapi memiliki sengat yang sangat menyakitkan,” lirih suara Nindy dengan mata yang tak henti menetes. Ia bimbang tak tahu harus ke mana. Farhan yang telah menjadi catatan harian dalam sajak yang ia tulis telah mengusiknya dengan belati pengkhianatan. Ia rapuh dan galau. Jiwanya tidak hanya hampa tapi kosong. Segala yang beriak di depannya menjadi nyanyian sendu yang bermelodi pilu. Ia mengempaskan tubuh dan jiwanya di tepi jalan di bawah pohon rindang. Sedang mata dan jiwanya tiada henti menetaskan air mata.

“Tuhan, dua malaikat yang Kau kirim ternyata tak seindah puisi yang selalu kutulis di saat pagi menjelang dan senja menemaniku juga malam yang redup. Dan tak seindah mawar yang kujaga. Durinya telah melukai jemari hati dan jiwaku,” kalimat itu lirih keluar dari lekuk bibir manis Nindy yang kini tengah lelah dengan hampa. Matanya yang lentik kini menjadi lukisan parau di tengah ladang hijau yang rapuh. Ia menangis dan menangis.

Jakarta, 090613

* petikan puisi Sapardi Djoko Damono

Leave a Comment