Aku Palestina

Aku Palestina

Setelah tubuhku luluh
Menjadi asap tebal di lempengan pualam
Panas serasa kosong
Mata tak terpejam
Semua bagai api yang keruh
Aku hanya menjadi bara yang tandus
Tak ada air yang meraba tubuhku
Aku Palestina

Yang muda yang menjerit
Yang muda yang terluka
Tiada henti
Darah seakan nyanyian
Mengalir bagai lirik
Aku bagai debu yang rapuh
Menahan angin yang tiada tepi
Aku Palestina

Di negeriku
Ribuan doa meronta bagai hujan lebat
Kepalan tangan pun kadang jadi terik matahari
Suara sengau menjadi teriakan yang menggema Allahu Akbar
Tapi Palestina tetap terluka
Terkubur asap hitam pada denting waktu

Tapi di negeriku juga
Ada yang duduk menghitung kalender
Menunggu saku tumbuh mekar
Tanpa menatap rintih yang menelan doa
Dan hanya menyeka peluh dengan batang nafsu
Tak ada Palestina di benaknya
Bagai garis saja
Yang tidak pernah menoleh pada lekuknya
Ia hanya ingin menerjali tubuhnya dengan koma. Tanpa titik

Sejak matahari dan bulan
Tubuhku runtuh
Menjadi kepingan angin yang terkoyak
Arus yang mengalir
Bukan air
Tapi darah
Darah anakku yang putih
Anakku yang hebat
Dan anakku yang mampu meneriakkan Allahu Akbar
Aku Palestina

Aku merindu pada angin
Yang membuatku terlelap
Bukan pada debur suara yang mengerang
Lantaran letusan yang lebam
Aku Palestina

Di lembah negeri yang kerontang ini
Aku hanya menuai doa pada Tuhanmu dan Tuhanku
Mengurai rindu dan air mata yang sendu
Palestinaku…
Hanya jarak waktu yang bisa kusentuh
Aku tak bisa menemuimu
Aku hanya meminta pada yang menggenggammu
Sembuhkan dukamu

Jakarta, 211112

Leave a Comment